Laman

Sabtu, 04 Desember 2010

RENCANA DAN PROGRAM KERJA MANAJEMEN KONSTRUKSI


I. Rencana dan Program Kerja


1. Penentuan Paket Pekerjaan
Untuk menghemat waktu dan biaya seperti yang telah diuraikan sebelumnya dan juga karena lingkup pekerjaan yang besar, maka perlu dibuat paket-paket pekerjaan yang memadai.
Paket pekerjaan dibuat berdasarkan pemikiran sebagai berikut :
  • Lingkup pekerjaan dan tanggung jawab konstruksi/sistem.
  • Jenis/type spesialisasi/pekerjaan.
  • Nilai pekerjaan.
  • Koordinasi kerja.
Dengan berdasarkan pemikiran tersebut, maka dibuat paket-paket pekerjaan sebagai berikut :
1. Paket 1 : Pekerjaan Fondasi
2. Paket 2 : Pekerjaan Struktur Basement dan Atas
3. Paket 3 : Pekerjaan Arsitektur dan Landskap
4. Paket 4 : Pekerjaan Elektrikal dan Mekanikal :
  • Listrik Umum
  • Penangkal Petir
  • Pencegahan Kebakaran (Spinkler, Hydrant dan Tabung Kebakaran)
  • Instalasi Pengolahan Air Limbah
5. Paket 5 : Instalasi Tata Udara dan Ventilasi
6. Paket 6 : Elevator/Transfortasi Vertikal
7. Paket 7 : Sistem Informasi dan Komunikasi :
  • Telepon dan PABX
  • Tata Suara dan Panggilan Kendaraan
  • Sistem Jam Induk
  • Alarm Kebakaran
  • Sistem Keamanan 
2. Koordinasi Kerja
Dalam pelaksanaan suatu proyek, selalu diperlukan koordinasi kerja yang mencakup :
a). Koordinasi Perencanaan
Suatu perencanaan mungkin saja berubah pada saat dilaksanakan karena adanya faktor-faktor tak terduga, misalnya :
  • Perubahan fungsi
  • Adanya perbedaan antara data dalam perencanaan dengan keadaan lapangan
  • Kemungkinan adanya kekeliruan dalam perencanaan
  • Penyesuaian perencanaan dengan peralatan/bahan yang ada dipasaran
Setiap perubahan perencanaan, perlu diadakan koordinasi, baik terhadap perencanaan itu sendiri maupun kaitannya dengan pekerjaan yang telah diselesaikan, pekerjaan yang akan dikerjakan dan laju pelaksanaan secara keseluruhan.
Adapun program koordinasi perencanaan dilakukan sebagai berikut :
  • Rapat koordinasi perencanaan di lapangan, dilaksanakan minimal satu kali dalam satu minggu bersamaan dengan rapat lapangan.
  • Memeriksa semua dokumen tender Kontraktor dan menyesuaikan dengan lingkup kerja dan spesifikasi yang tercantum dalam perencanaan. Hasil pemeriksaan dicantumkan dalam daftar khusus, kemudian dibahas bersama Perencana dan Kontraktor.
  • Melibatkan Perencana secara aktif dalam Pengawasan (Periodik).
  • Membentuk jalur komunikasi aktif yang timbal balik antara Manajemen Konstruksi dan Perencana sehingga setiap permasalahan yang timbul dapat segera diatasi sejak dini.
b). Koordinasi Pelaksanaan
Untuk menghindari pekerjaan bongkar /pasang dan membentuk suatu pola kerja yang terpadu, maka diperlukan suatu koordinasi pelaksanaan. Adapun faktor-faktor yang perlu perlu diperhatiakan dalam Koordinasi Pelaksanaan adalah :
  • Urutan kerja dari tiap-tiap jenis pekerjaan.
  • Jadwal dan lamanya waktu kerja.
  • Waktu pengadaan peralatan/bahan.
  • Jumlah kontraktor yang terlibat.
  • Skala prioritas.
  • Faktor-faktor lain yang tidak terduga misalnya adanya perubahan perencanaan yang mendasar, pengurusan izin-izin dan lain-lain.
Langkah yang perlu dilakukan dalam rangka Koordinasi Pelaksanaan ini adalah :

  • Mengadakan rapat Koordinasi Pelaksanaan secara periodik (seminggu sekali) dan insidentil (tergantung kebutuhan)
  • Membuat jadwal induk secara keseluruhan.
  • Mengkoordinasikan jadwal kerja dari tiap kontraktor, mengevaluasi dan kemudian mem fian kan jadwal kerja tersebut.
c). Koordinasi Administrasi
Terjadinya kesimpang siuran dalam pekerjaan administrasi disebabkan karena tidak adanya koordinasi administrasi. Kegiatan administrasi yang perlu dikoordinasikan antara lain adalah :
  • Laporan Prestasi Fisik Mingguan.
  • Berita Acara Pembayaran Angsuran.
  • Berita Acara Kerja Tambah/Kurang.
  • Berita Acara Serah Terima I dan II.
  • Gambar Kerja.
  • Gambar Sebagaimana dilaksanakan.
  • Pembuatan Buku Pendoman Operasi dan Pemeliharaan Sistem Elektrikal/Mekanikal
Untuk memperoleh hasil kerja yang baik dan terpadu dalam kegiatan administrasi ini, maka dilakukan langka-langkah sebagai berikut :
  • Membuat form-form standard untuk setiap laporan atau Berita Acara.
  • Menentukan suatu tata laksana kerja dalam bentuk FlowChart 
3. Pengendalian Kualitas
Pengendalian kualitas dimulai sejak pemilihan peralatan/bahan yang akan dipakai sampai pada waktu dikerjakan dan penyelesaiannya. Kriteria penentuan peraqlatan/bahan sangat tergantung pada jenis pekerjaannya dan spesifikasi yang dilaksanakan.

a). Pekerjaan Struktur
Untuk pekerjaan struktur, faktor-faktor penentu yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil akhir yang baik adalah :
  • Pemilihan jenis material.
  • Metode pelaksanakan.
  • Pengujian: slump tst, load test dan pengujian lain yang diperlukan seperti test kbus beton, setelah beton berumur 7 hari, 14 hari dan 28 hari.
  • Pengawsan harian yang mencatat semua kegiatan dan kejadian dari setiap bagian pekerjaan struktur.
Referensi utama dalam pengendalian Kualitas Pekerjaan Struktur adalah Pedoman Beton Indonesia (PBI) 1971.

b). Pekerjaan Arsitektur
Faktor-faktor yang menentukan hasil ahkir pekerjaan arsitektur, Finishing adalah :
  • Pemilihan bahan yang akan dipakai baik bahan dasar maupun bahan utama, disesuaikan dengan standar yang berlaku (SII, JIS, dsb) atau Spesifikasi Perencana.
  • Metoda pelaksanaan setiap pekerjaan misalnya : metoda pemasangan lantai/dinding keramik, langit-langit dan sebagainya. Metoda pelaksanaan diperlukan dari mulai pengukuran sampai penyelesaian pekerjaan.
Adapun langkah-langkah yang perlu diambil untuk mendapatkan kualitas hasil ahkir yang baik adalah :
  • Pengujian bahan/peralatan yang diusulkan oleh Kontraktor.
  • Penelitian dan pemeriksaan gambar kerja (Shop Drawing), khgususnya menyangkut koordinasi antar disiplin.
  • Pengawasan harian yang memonitor semua kegiatan dari setiap pekerjaan, kemudian mengevaluasinya.
  • Membuat contoh terpasang (Mock Up) dari bagian pekerjaan yang dianggap perlu, kemudian mengujinya sesuai dengan fungsi dari bagian pekerjaan itu. 
c). Pekerjaan instalasi Elektrikal dan Mekanikal
Untuk pekerjaan ini faktor-faktor yang menentukan kualitas hasil akhir adalah :

  • Standarisasi/spesifikasi bahan /peralatan yang dipakai.
  • Merk dan sistem yang diperlukan.
  • Metoda pelaksanaan.
Pada prinsipnya setiap bahan/peralatan, merk/sistem dan metoda pelaksanaan harus mengikuti spesifikasi dan gambar perencanaan. Bila ada kekurangan dalam spesifikasi dan gambar tersebut, maka dapat menggunakan referensi lain yang umum dipakai. Misalnya :
  • SMACNA (Sheet Metal Air Conditioning Contractors National Association)
  • PUIL ( Persyaratan Umum Instalasi Listrik )
  • SII ( Standar Industri Indonesia )
  • PPI ( Pedoman Plambing Indonesia )
  • FOC ( Fire Office Commite )
Adapun langkah-langkah yang perlu diambil untuk mendapatkan kualitas hasil-hasil akhir yang baik adalah :

  • Penelitian dan pengujian contoh bahan/peralatan yang diusulkan oleh Kontraktor dengan berpedoman kepada spesifikasi teknis dan peraturan yang berlaku. Penelitian tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga bersifat kontiuitas dari pengadaan bahan. Kalau diperlukan, peninjauan pabrik/suplier akan dilakukan.
  • Pengawasan terhadap kegiatan pelaksanaan dari mulai pengadaan bahan/peralatan sampai instalasinya.
  • Melakukan pengujian yang mencakup :
    • Pengujian instalasi pemipaan terhadap kebocoran dan tekanan air.
    • Pengujian instalasi kabel (Megger Test)
    • Pengujian keseimbangan aliran udara (Balancing).
    • Uji coba sistem. 
II. Jadwal Pelaksanaan Proyek
Secara terinci Konsultan Manajemen Konstruksi harus membuat jadwal dengan mempertimbangkan hal-hal berikut :

  1. Jenis pekerjaan disesuaikan dengan program kerja/paket yang diusulkan.
  2. Urutan kerja dari tiap jenis pekerjaan diatur sedemikian rupa, untuk menghindari pekerjaan bongkar/pasang.
  3. Lamanya waktu pengadaan/pelaksanaan diperkirakan berdasarkan volume pekerjaan, ketergantungan satu pekerjaan dengan yang lainnya dan keadaan lapangan.
Dalam pelaksanaannya jadwal ini perlu dikaji kembali dengan data yang lebih lengkap yaitu :
  1. Jadwal terinci yang dibuat oleh masing-masing Kontraktor.
  2. Masukan-masukan lain yang mungkin diperlukan, misalnya adanya peralatan khusus yang harus diimport, keadaan cuaca dan peraturan-peraturan lain yang diberlakukan di lapangan.
Dari data dan masukan yang lengkap, maka jadwal yang dihasilkan merupakan :

  1. Metoda Jalur Kritis (CPM) baik secara global maupun terinci.
  2. Bar Chart, Cash flow lengkap dengan S-Curvenya.
Pengendalian waktu didasarkan pada jadwal tersebut di atas dan langkah yang diambil adalah :

  1. Meneliti dan mengawasi kegiatan pelaksanaan menurut jadwal yang telah ditentukan.
  2. Bila terjadi penyimpangan atau kekeliruan dalam pelaksanaannya, maka dilakukan Updating.
  3. Peninjauan jadwal dilakukan setiap 2 minggu sekali.
  4. Setiap 2 minggu dibuat jadwal partial untuk bagian pekerjaan khusus, karena hal ini akan menunjang jadwal induk. 
III. Struktur Organisasi Manajemen Konstruksi
Struktur Organisasi Manajemen Konstruksi ini dibuat dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
  1. Kebutuhan personal yang sesuai dengan bidang masing-masing, baik dalam bidang Sipil/Struktur, Arsitektur, Elektrikal/Mekanikal maupun Administrasi.
  2. Jumlah personal disesuaikan dengan volume dan area pekerjaan.
  3. Effisiensi kerja yang perlu selalu ditingkatkan.
  4. Pembagian kerja yang sesuai dengan bobot masing-masing.

    oom0soo



     

 


 


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar